Senin, 09 Februari 2009

Tren Reboisasi Hutan Dunia

Hasil riset Forest Identity mendapati proses reboisasi hutan kini menjadi tren dunia. Tapi tidak di Indonesia dan Brasil.

Pada 1810, sebuah perubahan besar terjadi Denmark: penggundulan hutan berhenti. Sebagai gantinya, hutan baru bermunculan. Perpindahan penduduk dari desa ke kota dan menipisnya lahan yang subur untuk ditanami ditengarai menjadi salah satu penyebabnya. Tren itu lalu menyebar ke negara lain di Eropa dan Amerika Serikat.

Nah, Senin pekan lalu, kabar mengejutkan kembali datang. Kali ini dari Forest Identity. Menurut hasil riset lembaga itu, yang dimuat di jurnal milik National Academy of Sciences Amerika, hutan baru bermunculan di sejumlah negara. Kesimpulannya, kata jurnal itu, masa depan hutan belantara di dunia tidaklah buruk-buruk amat.

"Kami tak mengira trennya lebih baik daripada yang semula kami perkirakan," kata Profesor Pekka Kauppi, yang memimpin riset itu. "Kami melihat tak lama lagi era penggundulan hutan akan segera berakhir. Ini bukan sebuah ramalan, melainkan keniscayaan." Kauppi sampai pada kesimpulan itu setelah timnya menganalisis data milik Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Data FAO itu berisi tren masalah kehutanan di 229 negara pada 1990-2005. Informasi itu lalu mereka kompilasi dengan area dan populasi hutan di 50 negara yang paling banyak hutannya. Mereka juga memakai teknik analisis baru: mengukur volume kayu, biomassa, dan jumlah karbon.

"Kami jadi tahu gambaran utuh suatu ekosistem," tutur Kauppi. Riset itu juga menemukan kehadiran hutan-hutan baru di 22 negara, yang kian rimbun. Ekspansi wilayah hutan terbesar terjadi di Cina dan Amerika Serikat, disusul Spanyol, Vietnam, dan India, yang menggalakkan program reboisasi--penanaman hutan kembali.

India tercatat sebagai negeri padat penduduk yang kondisi hutannya stabil. Secara keseluruhan, riset itu menyebutkan, pada 2000-2005, wilayah hutan di Asia bertambah hingga 1 juta hektare. "Bumi sudah lama menderita akibat epidemi penebangan hutan," ujar Jesse Ausubel, peneliti dari Rockefeller University di New York.

"Kini manusia mulai membantu menyebarkan wabah reboisasi." Benarkah? Sebaiknya Anda jangan keburu senang dulu dengan hasil riset Forest Identity. Mark Aldrich dari WWF International's Forests for Life Program justru mendapati saban tahun ada sekitar 13 juta hektare hutan di dunia yang gundul.

"Jadi era pembalakan hutan belum akan segera berakhir," katanya. Ia beralasan tren penggundulan hutan justru kian merajalela di sejumlah negara. Parahnya, itu terjadi di negara yang selama ini dikenal memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia.

Ah, Anda pintar! Riset itu memang menyebutkan penggundulan hutan kian marak di Brasil dan Indonesia. Indonesia bahkan merupakan negara dengan tingkat penebangan hutan tertinggi di dunia. Bayangkan saja, hutan di negeri yang tanahnya subur ini berkurang enam persen setiap tahun. "Ini masalah serius!" ujar Kauppi.

Guru besar kehutanan di University of Helsinki, Finlandia, itu, seperti dikutip situs National Geographic, mempertanyakan keseriusan upaya pemerintah Brasil dan Indonesia dalam memerangi penebangan hutan secara liar. "Kalau Cina dan India saja bisa, mengapa Brasil dan Indonesia tidak?"

Boleh jadi reboisasi hutan belum akan menjadi tren di dunia. Setidaknya di Indonesia.



sumber : http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=155551

Es Mencair di Kutub Utara Picu Pemanasan Global

Washington, (ANTARA News) - Es yang makin cepat cair di laut Kutub Utara ternyata tidak hanya berdampak kepada beruang kutub dan anjing laut.

Suatu studi yang disiarkan, Selasa, menyatakan bahwa peristiwa itu dapat memacu temperatur yang makin hangat hingga ratusan kilometer ke daratan.

Hal itu berarti sangat mungkin akan terjadi pencairan di tanah yang telah lama beku, yang disebut "permafrost". Pada gilirannya, pencairan permafrost akan mengakibatkan dampak besar pada ekosistem maupun prasarana seperti pipa saluran dan pengeboran minyak.

Hal itu juga berarti makin menyebarnya gas pemanasan global di Rusia, Alaska dan Kanada, kata beberapa ilmuwan.

Studi tersebut sangat berkaitan, sehubungan pencairan es pertama kali terjadi tahun lalu di laut es Kutub Utara. Lapisan es di Laut Kutub Utara menyusut 30 persen di bawah angka rata-rata.

Rekor pencairan lain diramalkan bakal terjadi tahun ini, tapi belum diketahui apakah itu merupakan awal dari suatu kecenderungan.

"Pola iklim kita menunjukkan bahwa kehilangan es secara cepat bukanlah kejutan," kata David Lawrence dari "National Center for Atmospheric Research", salah seorang penulis studi tersebut.

"Ketika anda menghadapi kondisi tertentu di Kutub Utara --es tipis, banyak es tahun-pertama (yang berbeda dengan es lebih lama yang lebih kokoh)-- artinya kita mungkin menghadapi situasi ... kehilangan lapisan es secara cepat dan terus-menerus selama lima hingga 10 tahun," kata Lawrence melalui telefon dari Colorado.

Di dalam masa seperti itu, suhu musim gugur di sepanjang pantai Kutub Utara Rusia, Alaska dan Kanada dapat naik 5 derajat Celsius, ungkap temuan model iklim dalam studi tersebut. Musim gugur seringkali menjadi saat terhangat di daerah itu.


Saling berhubungan

Temperatur sejak Agustus hingga Oktober tahun lalu di daratan di bagian barat Kutub Utara juga lebih hangat, sekitar 2 derajat Celsius di atas temperatur rata-rata pada 1978-2006. Hal itu menimbulkkan tanda-tanya mengenai hubungan antara laut es yang menyusut dan temperatur daratan yang makin hangat.

Para ilmuwan tersebut mendapati bahwa ketika laut es mencair dengan cepat, daratan Kutub Utara menghangat tiga setengah kali lebih cepat dibandingkan angka rata-rata yang diramalkan dalam model cuaca Abad 21.

Pemanasan terbesar terjadi di lautan tapi simulasi menunjukkan bahwa peristiwa tersebut dapat menjangkau hingga 900 mil dari pantai.

Beberapa wilayah tempat "permafrost" sudah terancam, seperti di bagian tengah Alaska, pencairan laut es dengan cepat dapat mengarah kepada pencairan "permafrost" dengan cepat.

Dampak dari pencairan itu sudah terbukti di beberapa bagian Alaska, kata para ilmuwan tersebut: beberapa kantung tanah ambruk akibat es di dalamnya mencair, jalan raya amblas, rumah tak stabil dan pepohonan miring tak beraturan yang disebut fenomena ai "hutan mabuk" akibat tanah di bawahnya merekah.

"Ada saling keterkaitan di Kutub Utara," kata Lawrence. "Ketika laut es makin cepat menyusut, hal itu berdampak pada bagian lain sistem, misalnya suhu yang menghangat di daratan. Suhu yang menghangat di daratan dapat mempercepat degradasi "permafrost", terutama "permafrost" yang sudah menghangat saat ini".

sumber : antara news

Kebakaran Hutan

sumber : www.walhi.or.id

Kebakaran hutan adalah bencana bagi keberlanjutan lingkungan hidup.
Kebakaran hutan adalah bencana bagi keberlanjutan lingkungan hidup.

Kebakaran hutan terbesar tahun ini terjadi di Palangkaraya. Bancana ini mengakibatkan bandara tertutup asap, dan kota Palangkaraya gelap tertutup asap pada siang hari. Ketika bencana terjadi dua hari anak-anak sekolah dasar di palangkaraya diliburkan untuk menghindari asap. Bencana kebakaran hutan juga terjadi di Riau, Jambi, dan Lampung. Kerugian terjadi bukan hanya hilangnya hutan ratusan hektar, namun juga penyakit ISPA, macetnya roda perekonomian serta transportasi.

Bahaya Limbah Cair Pertambangan Batubara

By stanleywush

Oleh Suhartono Ketua Umum Yayasan Lestari

Dampak negative dari aktifitas pertambangan batu bara bukan hanya menyebabkan terjadi kerusakan lingkungan. Melainkan, ada bahaya lain yang saat ini diduga sering disembunyikan parapengeoloa pertambangan batu bara di Indonesia. Kerusakan permanent akibat terbukanya lahan, kehilangan beragama jenis tanaman, dan sejumlah kerusakan lingkungan lain ternyata hanya bagian dari dampak negative yang terlihat mata.

PERTAMBANGAN batubara ternyata menyimpan bahaya lingkungan yang berbahaya bagi manusia. Bahaya lain dari pertambangan batu bara adlaah air buangan tambang berupa luput dan tanah hasil pencucian yang diakibatkan dari proses pencucian batubara yang lebih popular disebut Sludge

Saat ini banyak analis pertambangn yang tidak mamu mengekspose secara detail tentang bahaya air cucuian batubara. Limbah cucian batu bara yang ditampung dalam bak penampung sangat berbahaya karena mengandung logam-logam beracun yang jauh lebih berbahaya disbanding proses pemurnian pertambangan emas yang mengunakan sianida (CN).

Proses pencucian dilakukan untuk menjadi batubara lebih bersih dan murni sehingga memiliki nilai jual tinggi. Proses ini dilakukan karena pada saat dilakukan eksploitasi biasanya batubara bercampur tanah dan batuan.

Agar lbih mudah dan muerah, dibuatlah bak penampung untuk pencucian. Kolam penampung itu berisi air cucian yang bercampur lupur. LSM lingkungan JATAM menyebutnya dana beracun yang berisi miliaran gallon limbah cair batubara

Sluge mengandung bahan kimia karsinogenik yang digunakan dalam pemrosessan batubara yang logam berat berancun yang terkandung di batubara seperti arsenic, merkuri, kromium, boron, selenium dan nikel.

Dibandingkan tailing dari limbah luput pertambangan emas, unsure berancun dari logam berat yang ada limbah pertambangan batubara jauh lebih berbahaya. Sayangnya sampai sekarang tidak ada publikasi atau informasi dari perusahan pertambangan terhadap bahaya sluge kepada masyarakat di sekitar pertambangan.

Unsure beranu menyebabkan penyakit kulit, gangguan pencernaan, paru dan penyakit kanker otak. Air sungai tempat buangan limbah digunakan masyarkat secara terus menerus. Gejala penyakit itu biasa akan tampka setelah bahan beracun terakumulasi dalam tubuh manusia.

Beberapa perusahaan tambang di Kalimantan Timur ditengarai tridak melakukan pengelolaan water treatmen terhadap limbah buangan tambang dan juga tanpa penggunaan bahan penjernih Aluminum Clorida, Tawar dan kapur. Akibatnya limbang buann tambang menyebabkan sungai sarana pembuagan limbah cair berwarna keruh.

Alangkah bijaknya jika perusahaan pertambangan batubara tetap memperhatikankualitas limbah tambangnyha dengan membuat water treatment dan pengunaan bahan penjernih air hingga limbah buangan aman bagi masyarakat dan lingkungan.


Advokasi Pencemaran Udara

Secara umum, terdapat 2 sumber pencemaran udara, yaitu pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources), seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic sources), seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di dunia, dikenal 6 jenis zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic sources), yaitu Karbon monoksida (CO), oksida sulfur (SOx), oksida nitrogen (NOx), partikulat, hidrokarbon (HC), dan oksida fotokimia, termask ozon.

Di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta. Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah tangga, di mana mencakup 41% dari sumber debu di Jakarta. Sektor industri merupakan sumber utama dari sulfur dioksida. Di tempat-tempat padat di Jakarta konsentrasi timbal bisa 100 kali dari ambang batas.

Sementara itu, laju pertambahan kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 15% per tahun sehingga pada tahun 2005 diperkirakan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 2,8 juta kendaraan. Seiring dengan laju pertambahan kendaraan bermotor, maka konsumsi bahan bakar juga akan mengalami peningkatan dan berujung pada bertambahnya jumlah pencemar yang dilepaskan ke udara.

Tahun 1999, konsumsi premium untuk transportasi mencapai 11.515.401 kilo liter [Statistik Perminyakan Indonesia, Laporan Tahunan 1999 Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi]. Dalam setiap liter premium yang diproduksi, terkandung timbal (Pb) sebesar 0,45 gram sehingga jumlah Pb yang terlepas ke udara total sebesar 5.181,930 ton. Dengan pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor sebesar 300% dan 50% diperkirakan tahun 2001 polusi akibat timbal (Pb) meningkat.

Menurut penelitian Jakarta Urban Development Project, konsentrasi timbal di Jakarta akan mencapai 1,7-3,5 mikrogram/meter kubik (ìg/m3) pada tahun 2000. Menurut Bapedalda Bandung, konsentrasi hidrokarbon mencapai 4,57 ppm (baku mutu PP 41/1999: 0,24 ppm), NOx mencapai 0,076 ppm (baku mutu: 0,05 ppm), dan debu mencapai 172 mg/m3 (baku mutu: 150 mg/m3).

sumber: www.walhi.or.id

Minggu, 08 Februari 2009

BANJIR MELANDA KOTA SEMARANG????????

Semarang sekarang ini sedang dalam keadaan yang terpuruk..sejak tanggal 8 feb 2009 banjir melanda kota semarang. Mungkin ini banjir terdahsyat di kota semarang diawal tahun ini. Di daerah karang ayu misalnya, banjir melanda sejak hari minggu tanggal 8 feb 2009 sekitar jam 02.00 pagi hari. Banjir dengan ketinggian 1m membuat rumah warga tergenang air.sehingga mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.mungkin tidak hanya di daerah karang ayu saja, tapi hampir semua daerah yang berada di dataran rendah.
lalu apa yang membuat semarang banjir??

bersambung.........

Kamis, 05 Februari 2009

Ulama Cirebon Tolak Fatwa Rokok

Pengharaman rokok oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendapat reaksi dari berbagai kalangan, termasuk ulama di Cirebon, Jawa Barat. Ulama dari pesantren poros Jawa, pesantren Buntet menolak fatwa yang mengharamkan rokok. Fatwa tersebut dinilai mengada-ada, serta bukan menjadi solusi persoalan bangsa. Selain meminta untuk dikaji ulang, para ulama juga menganggap fatwa MUI tidak mengikat sehingga masyarakat tidak harus mengikutinya.

Ulama Khos dari pondok pesantren Buntet kabupaten Cirebon ini menyayangkan keputusan fatwa MUI, yang mengharamkan rokok. Mereka menolak fatwa MUI, karena menganggap dasar hukum rokok adalah makruh, dan tidak dapat diharamkan dengan diskriminasi usia, ataupun jenis kelamin.

Langkah MUI ini, dianggap akan mencederai lembaga MUI sendiri. Lantaran keputusan fatwa haram rokok tidak memiliki dasar hukum tetap secara sar’i. Anak-anak, remaja maupun wanita hamil, tidak perlu mendapat spesifikasi larangan merokok, karena secara moral mereka sudah mendapat pengetahuan dari keluarga dan sekolah.

Ulama Cirebon yang dipelopori Rois Syuriah PB. Nahdlatul Ulama pusat , Kyai Haji Adib Rofiudin Izza ini , mengharapkan fatma MUI yang mengharamkan rokok ditinjau ulang. MUI dan pemerintah seharusnya lebih memikirkan persoalan lain. Kalau sudah berkaitan dengan hukum haram dan halal, masyarakat khususnya kalangan pesantren dapat meninjau sendiri secara hukum syari. Bisa jadi, fatwa MUI mengharamkan rokok, bakal kembali menjadi bumerang ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga MUI.

Sumber : kompas tv

PENCEMARAN TANAH

Pencemaran tanah bermaksud perbuatan yang berlaku kepada sesuatu kawasan sehingga terjadinya pertukaran warna, kesuburan dan hakisan. Ianya disebabkan oleh bahan buangan dalam bentuk air atau pepejal. Bahan pencemar terdiri daripada pencemar organik, kimia atau fizik. Seriusnya pencemaran tanah bergantung kepada kesuburan tanah. Pencemaran menunjukkan tahap serius apabila kesuburan tanah sudah hilang. Tanah akan bertukar warna menjadi kehitaman dan tumbuh-tumbuhan di kawasan tersebut akan menjadi layu.

Punca Pencemaran

  • Bahan buangan kilang - minyak, sisa toksik dan sisa-sisa kilang ( dibiarkan begitu sahaja atau ditanam dalam tanah ).
  • Masyarakat - pembuangan sampah merata-rata tempat dan pelupusan yang tidak sistematik.

Kesan Pencemaran

Kesuburan tanah - tercemar dan tidak sesuai untuk tujuan pertanian.

Sumber : Pencemaran Alam Sekitar, Siri Pencemaran Alam, Jasiman Ahmad, Eddiplex Sdn. Bhd. 1996

Pencemaran Lingkungan Picu Penyakit Degeneratif

Pencemaran Lingkungan Picu Penyakit Degeneratif
Gizi.net - Pencemaran lingkungan menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit degeneratif yang belakangan makin meningkat prevalensinya. Oleh sebab itu, pengendalian lingkungan harus dilakukan secara terpadu.

Menurut Deputi Pengendalian Dampak Lingkungan dan Sumber Institusi Kementerian Lingkungan Hidup Isa Karmisa, dari hasil penelitian JICA, badan peneliti dari Jepang yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup 1991-1998, menunjukkan adanya peningkatan jumlah penderita hipertensi akibat pencemaran timbal (Pb).

''Meningkatnya penderita hipertensi ini disebabkan keracunan Pb yang ditemukan di dalam darah si penderita. Penyakit hipertensi ini bisa berkomplikasi dengan jantung, ginjal maupun gula darah sehingga menyebabkan penderita mengalami diabetes hipertensi,'' kata Isa di sela-sela seminar ilmiah penelitian dan pengembangan isotop dan radiasi, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, polisi, penjaga pintu tol, penjaja asongan maupun sopir merupakan orang yang berpotensi terkena hipertensi karena timbal ini, sebab mereka sering berada di jalan.

Selain itu, angka harapan hidup pun rata-rata mencapai 50 tahun dari usia harapan hidup untuk orang sehat selama ini, yakni 70 tahun. ''Selain hipertensi, impotensi juga meningkat akibat pencemaran lingkungan. Sebetulnya tidak hanya timbal saja. Pencemaran lingkungan di sekitar lokasi pabrik ataupun tambang emas telah terbukti menyebabkan penyakit kanker dalam jangka waktu tertentu,'' kata Isa.

Sedangkan menurut Endang Sri Heruwato dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, pesisir merupakan pertemuan daratan dan laut yang rentan pencemaran. ''Karena banyak industri yang membuang limbah di pesisir baik limbah kimia, fisika atau biologi. Dampaknya sudah pasti selain gangguan terhadap kelestarian lingkungan, juga keselamatan dan jaminan kesehatan konsumen tidak ada.''

Dari hasil penelitian DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan), kata Endang, pencemaran merkuri dan arsen di Teluk Buyat menyebabkan ikan tercemar merkuri. ''Dari hasil penelitian kadar merkuri di hati ikan 9,1 mg/g. Merkuri dari tambang terbuang setiap kali proses 14,5%, sedangkan gas sebesar 2,5%. Kadar pada sedimen dan ikan mencapai 0,116-13,87 ppm.''

Menurut dia, yang paling lebih berbahaya lagi jika limbah dalam bentuk senyawa organik (metal merkuri) larut dalam air, lemak dan dapat terakumulasi pada biota air termasuk ikan. ''Metil merkuri sangat berbahaya karena mampu diserap tubuh hingga 95%. Metil merkuri ini bisa tertimbun dalam ginjal, otak, janin, otot, dan hati manusia,'' jelasnya.

Pencemaran sungai

Lebih jauh ia mengungkapkan, berdasarkan penelitian di Sungai Kapuas Kalimantan Barat ditemukan 3.000 mesin pencuci emas dengan kadar merkuri 200 kali ambang batas. Sedangkan di Kalimantan Tengah, terdapat 2.300 tromol emas membuang 10 ton merkuri per tahun dan mencemari 11 sungai di sana.

Menurut Endang, dari jumlah tersebut, 1.500 tromol membuang 1,5 ton merkuri dalam tiga bulan terakhir ini ke Sungai Kahayan. ''Akibatnya kadar merkuri pada air dan ikan melebihi ambang batas,'' ujarnya.

Kadar merkuri di Sungai Barito mencapai 0,79-9,79 ppb di air dan 1,76-24-67 ppb di sedimen. ''Sedangkan penelitian kami lainnya di Pasuruan dan Pantai Utara Bali ditemukan adanya pencemaran logam berat dan E.coli. Selain itu, sungai-sungai di dekat industri seperti Bekasi dan Cisadane Banten juga ditemukan pencemaran. Di Cisadane misalnya, ditemukan senyawa kimia krum, seng, besi, nikel dan sebagainya,'' kata Endang.

Isa menambahkan, untuk menangkap pelaku pencemaran lingkungan memang perlu bukti akurat. ''Makanya pemberian izin industri saat ini sangat ketat. Banyak masukan tidak hanya dari Pemda setempat melainkan juga dari LSM, masyarakat, dan para pakar. Kita tampung pro dan kontra itu untuk menjadi bahan masukan perizinan,'' tegasnya.

Ia menilai kasus-kasus pencemaran saat ini telah ditempuh dengan upaya tindakan hukum namun hasilnya belum memuaskan banyak pihak termasuk korban pencemaran. ''Sebab lingkungan yang tercemar sulit dikembalikan seperti semula. Demikian juga dengan korban yang memerlukan biaya tidak sedikit dalam pengobatan.'' (Nda/H-4)


Sumber: http://www.mediaindo.co.id

Penyebab, Sebab dan Akibat Pencemaran Lingkungan Pada Air dan Tanah - Kesehatan Lingkungan - Ilmu Sains Biologi

Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Pencemaran air dan tanah adalah pencemaran yang terjadi di perairan seperti sungai, kali, danau, laut, air tanah, dan sebagainya. Sedangkan pencemaran tanah adalah pencemaran yang terjadi di darat baik di kota maupun di desa.

Alam memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi air yang telah tercemar dengan proses pemurnian atau purifikasi alami dengan jalan pemurnian tanah, pasir, bebatuan dan mikro organisme yang ada di alam sekitar kita.

Jumlah pencemaran yang sangat masal dari pihak manusia membuat alam tidak mampu mengembalikan kondisi ke seperti semula. Alam menjadi kehilangan kemampuan untuk memurnikan pencemaran yang terjadi. Sampah dan zat seperti plastik, DDT, deterjen dan sebagainya yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperparah kondisi pengrusakan alam yang kian hari kian bertambah parah.

Sebab Pencemaran Lingkungan di Air dan di Tanah :
1. Erosi dan curah hujan yang tinggi.
2. Sampah buangan manusia dari rumah-rumah atau pemukiman penduduk.
3. Zat kimia dari lokasi rumah penduduk, pertanian, industri, dan sebagainya.

Salah satu penyebab pencemaran di air yang paling terkenal adalah akibat penggunaan zat kimia pemberantas hama DDT. DDT digunakan oleh para petani untuk mengusir dan membunuh hama yang menyerang lahan pertanian.

DDT tidak hanya berdampak pada hama namun juga binatang-binatang lain yang ada di sekitarnya dah bahkan di tempat yang sangat jauh sekalipun akibat proses aliran rantai makanan dari satu hewan ke hewan lainnya yang mengakumulasi zat DDT. Dengan demikian seluruh hewan yang ada pada rantai makanan akan tercemar oleh DDT termasuk pada manusia.

DDT yang telah masuk ke dalam tubuh akan larut dalam lemak, sehingga tubuh kita akan menjadi pusat polutan yang semakin hari akan terakumulasi hingga mengakibatkan efek yang lebih menakutkan.

Akibat adanya biological magnification / pembesaran biologis pada organisme yang disebabkan oleh penggunaan DDT.
a. merusak jaringan tubuh makhluk hidup
b. menimbulkan otot kejang, otot lehah dan bisa juga kelumpuhan
c. menghambat proses pengapuran dinding telur pada hewan bertelur sehingga telurnya tidak dapat menetas.
d. lambat laun bisa menyebabkan penyakit kanker pada tubuh.


Dari :http://organisasi.org/penyebab_sebab_dan_akibat_pencemaran_lingkungan_pada_air_dan_tanah_kesehatan_lingkungan_ilmu_sains_biologi

Love is...
© my_dre4m - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace